SJ News - шаблон joomla Авто

Yusman Zendrato | Foto: Litbang IndoNias

Mendengar nama Yusman Zendrato, orang akan langsung membayangkan sosok seorang aktivis yang banyak mendengungkan kritik dan saran terhadap kinerja pemerintah daerah. Ya, laki-laki kelahiran Sisobahili, 18 April 1975 ini memang kerap menyuarakan aspirasi masyarakat. Baginya, perbaikan ke arah yang lebih baik tidak akan datang kalau tidak berbuat apa-apa.

“Bermimpi kita bisa menjadi lebih baik tanpa berbuat apa-apa, itu sama artinya “pungguk merindukan bulan”. Bagi saya, kritik dan otokritik itu merupakan keharusan dalam menata apapun. Anti kritik sama dengan anti perubahan. Maka selalu diperlukan partisipasi masyarakat dalam memperbaiki jalannya pemerintahan,” tuturnya kepada IndoNias, di kediamannya, Kamis (28/1).

Selama ini Yusman memang dikenal sebagai aktivis yang gigih memperjuangkan nasib rakyat tanpa berharap imbalan materi. Tak heran bila ada yang menilai alumni SMEA BNKP Gunungsitoli ini sebagai seorang idealis yang jika disuruh memilih antara hidup miskin atau hidup kaya tapi menjadi ‘peliharaan’ penguasa, maka dia pasti akan rela hidup sebagai orang miskin saja. 

“Sebenarnya persoalannya bukan terletak pada rela atau tidak rela, tetapi saya hanya memegang prinsip bahwa untuk memenuhi kebutuhan hidup, setiap orang harus bekerja keras dan tidak menindas kepentingan orang lain. Alasan lain adalah pada cara berpikir, dimana strata sosial dalam masyarakat kita lebih banyak diukur dari jumlah harta. Padahal setiap orang harus ditempatkan pada posisi yang sama dalam kehidupan sosialnya. Bupati, gubernur, presiden, anggota DPR/DPRD dan petani itu sama-sama manusia. Maraknya korupsi pejabat merupakan salah satu akibat dari parameter sosial yang menempatkan harta kekayaan sebagai ukuran. Sayangnya, masyarakat sering menganggap lumrah bila pejabat korupsi. Akibatnya perang memberantas korupsi menjadi sangat lemah karena lapisan masyarakat luas lebih banyak diam,” katanya.

Menurut Yusman, seorang aktivis sosial atau pergerakan sejatinya tidak akan pernah menjual harga diri kepada siapapun. Namun faktanya banyak oknum mengaku sebagai aktivis, dan sebagian bernaung di bawah bendera LSM yang ternyata menjadi “peliharaan” penguasa daerah. Hal itu bisa terjadi karena anggotanya direkrut tanpa melalui pendidikan organisasi, jadi hanya bermodalkan keinginan, sudah bisa menjadi anggota LSM.

“Selayaknya setiap organisasi masyarakat membawa visi dan misi yang dilandasi ideologi tertentu dan setiap anggota harus dibekali ideologi tersebut, sehingga anggota memahami apa yang seharusnya dijadikan sebagai penuntun dalam menjalankan organisasi,” ujarnya.

Mengingat pentingnya pendidikan politik dan pengorganisasian, maka selama beraktifitas di Kepulauan Nias, Yusman banyak melakukan pendidikan politik dan pengorganisasian kepada masyarakat, terutama kalangan mahasiswa. Hal itu dia lakukan atas dasar kesadaran bahwa permasalahan terbesar di Kepulauan Nias adalah pendidikan masyarakat.

“Pendidikan bisa merubah cara berpikir, sehingga proses perubahan dapat terjadi. Misalnya, para petani jangan melulu diberikan pendidikan mengenai masalah pertanian, tetapi perlu dibekali pendidikan politik, supaya tidak menjadi komoditi politik. Demikian pula dengan nelayan kecil atau nelayan tradisional yang semakin digilas oleh pemodal besar. Juga para mahasiswa yang semakin diracuni oleh liberalisasi pendidikan dan sebagainya. Proses-proses pendidikan terhadap mereka dapat membawa kesadaran baru, sehingga mereka bisa diajak untuk melakukan kritik yang membangun, baik terhadap pemerintah daerah maupun dalam lingkup-lingkup kecil. Itulah harapan terbesar saya, yaitu kemajuan Nias di bidang pertanian dan politik masyarakatnya,”  katanya.

Masalah Utama Kepulauan Nias

Menurut Yusman ada tiga indikator keberhasilan pembangunan daerah, yaitu pertumbuhan ekonomi, pemerataan ekonomi dan pemberdayaan ekonomi lokal. Sejak kepulauan Nias menjadi lima DOB, dirinya melihat ketiga indikator tersebut masih sangat kurang. “Kita bisa melihat bagaimana kondisi ekonomi petani Nias saat ini, sangat memprihatinkan! Saya bukan menutup mata dengan apa yang telah dilakukan para pemimpin selama lima tahun terakhir, seperti terobosan di Nias Selatan yang memfokuskan pembangunan infrastruktur dan pendidikan. Namun semua itu ujung evaluasinya seharusnya ada pada pertumbuhan pendapatan, investasi dan kesempatan kerja. Jadi, keberhasilan pembangunan suatu daerah harus dievaluasi dengan parameter ekonomi masyarakatnya, bukan dilihat dari ekonomi pejabat atau pengusahanya saja,” ujarnya.

Sementara akar masalah dari perkembangan Kepulauan Nias, menurut Yusman, bisa dibagi dalam dua kategori besar, yaitu pendidikan masyarakat dan kemampuan serta niat pemimpinnya. Masyarakat Nias bila diukur dari segi pendidikan masih tergolong rendah sehingga SDMnya juga rendah. Sementara kategori kedua yaitu kemampuan dan niat kepala daerah sangat mempengaruhi kategori sebelumnya.

“Kita sangat berharap para pemimpin di Nias berani membuat terobosan untuk bidang pertanian yang menjadi mata pencaharian utama sebagian besar masyarakat. Selama ini pembangunan bidang infrastruktur dan sarana prasarana memang sudah mulai baik, namun hal itu belum cukup. Harus ada terobosan yang lebih spesifik yang bisa langsung menyentuh ekonomi dan sosial masyarakat petani tradisional,” katanya.

Yusman melihat masalah berskala nasional yang terjadi belakangan ini dapat berdampak buruk kepada masyarakat Nias, misalnya pola rekrutmen calon pemimpin daerah yang rata-rata berhubungan langsung dengan partai politik. Bukan rahasia lagi bila partai-partai politik sebagai lembaga yang melahirkan pemimpin daerah dan pemimpin nasional mengidap berbagai ‘penyakit’, sehingga produknya (pemimpin daerah/nasional) juga tak sedikit yang ‘berpenyakit’. Selain itu, masalah teror berlabel agama/kepercayaan, serta hegemoni jalur-jalur perekonomian oleh segelintir pengusaha lokal maupun dari luar, dapat membawa pengaruh buruk bagi masyarakat. “Masyarakat harus mampu membentengi diri dari hiruk pikuk produk sosial yang  melanda negeri ini,” katanya.

Ketika ditanya pendapatnya mengenai Pilkada serentak yang dilaksanakan pada bulan Desember tahun lalu, Yusman menilai cukup berhasil dari sisi proses penyelenggaraan. Namun bila ditanya pendapatnya tentang hasil Pilkada, maka jawabannya sederhana: “Itu bukan pestanya rakyat bawah.” Dalam pandangangan Yusman, rakyat lapisan bawah hanya terimbas sehingga ikut-ikutan berpesta. Namun setelah itu semuanya kembali seperti semula. Meski begitu, dirinya tetap berharap bahwa mereka yang akan memimpin Nias selama lima tahun ke depan mempunyai terobosan yang lebih baik dari periode kepemimpinan sebelumnya.

“Kita tidak harus membebani mereka dengan harapan yang besar, cukup kita berharap bahwa mereka punya itikad baik untuk melakukan terobosan di bidang-bidang yang memungkinkan ekonomi masyarakat petani bisa membaik, pelaksanaan pendidikan formal dan non formal bisa lebih baik, serta bersih dari korupsi. Andai saja hal ini bisa terjadi dalam kurun waktu lima tahun ke depan ini, saya yakin akan ada perubahan signifikan terjadi di Kepulauan Nias,” tandasnya. (Eka)

Biodata singkat:

-           Nama lengkap          : Yusman Zendrato

-           Nama panggilan      : Yusman

-           Tempat/Tgl. Lahir     : Sisobahili, 18 April 1975

-           Istri                              : Getsemani Br. Karo

-           Anak                           : Eunike Zendrato, Roci Gavrielin Zendrato, Priscilla Zendrato

-           Anak ke 3 dari 5 bersaudara

-           Nama orang tua       : Alm. Faosökhi Zendrato (ayah) & Rehana Mendrofa (ibu)

-           Hobi                            : Nyanyi sambil metik gitar

-           Pekerjaan                  : ISP (internet service provider)

-           Pendidikan               : SMEA Swasta BNKP Gunungsitoli 

Berita Populer

  • Terbaru
  • Terpopuler

Mendagri akan sambangi ...

  Menteri Dalam Negeri Tjahjo ...

MUTASI PEGAWAI KABUPATEN ...

Sudah 8 bulan lamanya masa ...

NISEL" MATI GAYA" , ...

Puluhan mobil Truk Terlantar,Asset ...

BUPATI HILARIUS DUHA TAK ...

Didepan Kantor Bupati Nisel, ...

Pemkab Nisbar Gelar ...

Nias Barat | IndoNias Untuk ...

Laporan Marinus Gea ke ...

Komentar akun Sukawani Hia pada ...

NISEL" MATI GAYA" , ...

Puluhan mobil Truk Terlantar,Asset ...

100 Tokoh Nias: Jejak ...

Mantan Wali Kota Medan dan ...

128 Bidan Ikuti Seleksi ...

Foto: Wira Zega Gunungsitoli | ...

13 April Kepala Daerah ...

Gubernur Sumatera Utara Tengku ...

140 Peserta Ikuti ...

Peserta Pemilihan Putri ...

155 Orang PPK Kabupaten ...

Telukdalam │ IndoNias Ketua ...

Tabloid IndoNias Edisi IX

Kontak Kami

  • Telukdalam, Nias Selatan, Sumatera Utara
  • 0811 

Galeri Foto

Who's Online

Kami memiliki 100 tamu dan tidak ada anggota online

Statistics

OS:  
Linux i
PHP:  
5.5.38
MySQL:  
10.1.21-MariaDB-cll-lve
Waktu:  
10:27
Cache:  
Dinonaktifkan
GZip:  
Dinonaktifkan
Pengunjung:  
4
Artikel:  
837
Tautan Web:  
9